“Car Free Day” atau Bazar?

car free day

“car free day” | Ilustrasi oleh Arie Ardhana

Oleh: Arie Ardhana

Entah apa yang terbesit dalam benak sejumlah pemerintah kota di Indonesia dengan rangkaian acara copy paste-nya, yang diadakan setiap hari minggu. Acara yang bertajuk Car Free Day kini hampir diikuti oleh semua kota di seluruh Indonesia, tidak terkecuali di kota Jember. Penyakit plagiarisme yang menjangkit berbagai kota di belahan negeri ini terlampau menjijikkan.

Pertama: kenapa harus bertajuk Car Free Day? Sedangkan mayoritas masyarakat Indonesia, di Jember kususnya, lebih banyak pengendara sepeda motor dari pada pengendara mobil, atau car, dalam terjemahan bahasa inggris. Dalam arti lain car free day tidak berlaku bagi sepeda motor atau-pun kendaraan bermotor lain selain mobil seperti, becak bermotor, misalnya. Apakah hanya atas dasar gengsi lalu menggunakan istilah asing? Dari segi pelestarian bahasa nasional, tentu hal yang dianggap sepele seperti ini dapat mengkikis kosa kata Bahasa Indonesia. Lambat laun kita semakin sulit menemukan kata asli Bahasa Indonesia, sedangkan saat ini kita sudah terlalu banyak menggunakan kosa kata serapan dari bahasa asing.

Suasana Car Free Day di Jember

Suasana Car Free Day di Jember

Suasana bazar di area Car Free Day

Suasana bazar di area Car Free Day

Ketidak-jelasan aksi tersebut bisa saya simpulkan hanya mengejar satu kata, “keren”, sok keminggris. Saya curiga aksi ini diselenggarakan bukan atas dasar sikap peduli terhadap lingkungan melainkan, hanya ikut-ikutan. Ini Indonesia! Seberapa sulit memberi judul menggunakan bahasa Indonesia, yang tentunya lebih mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia sendiri?! “Hari Bebas Asap Kendaraan”, misalnya. Dengan begitu pesan yang ingin disampaikan lebih mudah diterima masyarakat.

Kedua: aksi yang seharusnya peduli dengan lingkungan hijau tersebut sama sekali tidak efektif sebab, itu tidak jauh berbeda dengan mengubah jalan raya menjadi pasar dadakan. Akibatnya, masyarakat yang penasaran oleh judul acara yang sok inggris tersebut berdatangan dari berbagai pelosok untuk menyaksikan acara tersebut. Pengunjung dari luar kota yang ingin menyaksikan acara tersebut tentu tidak datang dari rumah jalan kaki, pasti mereka menggunakan kendaraan bermotor. Alhasil, kota yang seharusnya sepi di hari minggu justru padat kendaraan bermotor (ruas jalan di luar area car free day). Kegiatan tersebut sangat tidak mendidik masyarakat untuk sadar akan pentingknya istirahat tanpa harus keluar rumah dan menikmati kesumpekan kota. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dari polusi udara dengan sehari saja dalam seminggu mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, bukan sebaliknya sebagai ajang pesta pora yang tidak jelas.

Pedagang di area Car Free Day Jember

Pedagang di area Car Free Day Jember

Ketiga: car free day salin tempel ini hanya perpanjangan tangan untuk menyedot anggaran belanja masyarakat. Masyarakat digiring untuk membeli aneka produk yang ditawarkan di area tersebut, dari produk makanan ringan hingga gadget canggih. Sebenarnya ide ini bagus sebagai sarana untuk meningkatkan pendapatan daerah. Pelaku ekonomi, dari kelas usaha kecil hingga perusahaan besar turut menikmati keuntungan dari acara tersebut. Namun, kenapa harus isu polusi udara yang dijadikan topeng?

Odong-odong di area Car Free Day Jember

Ada odong-odong di area Car Free Day Jember

Sampah yang ditinggalkan Car Free Day, atau lebih tepatnya Bazar di Jember

Sampah yang ditinggalkan Car Free Day, atau lebih tepatnya Bazar di Jember

Keempat: bazar dalam acara car free day tersebut meninggalkan sampah yang berserakan mengotori jalan raya. Acara yang justru meninggalkan sampah tersebut tentu tidak mencerminkan kampanye pencegahan atas pencemaran lingkungan. Seharusnya acara yang bermaksud peduli lingkungan tersebut benar-benar bisa memberi udara segar bagi masyarakat kota, bukan sebaliknya, memberikan rasa sumpek berdesak-desakan di pusat kota yang penuh sesak pengunjung bazar. Saya merasa betapa sumpeknya berjalan di tengah riuhnya acara tersebut ketika mendokumentasikannya untuk blog ini. Saya merasa aneh, kenapa harus ada bazar di area bebas polusi? Kenapa justru masyarakat dirayu untuk keluar rumah, sedangkan Car Free Day seharusnya bertujuan untuk mengurangi polusi udara yang ditimbulkan kendaraan bermotor?! Kenapa pemerintah selalu membodohi masyarakat?! Ataukah pemerintah memang tolol memaknai acara mereka sendiri yang mereka beri judul “Car Free Day”? Entahlah!

2 thoughts on ““Car Free Day” atau Bazar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s