Surga atau Neraka Terserah Anda

“Payung diciptakan untuk melindungi manusia dari panas dan hujan, namun tidak sedikit yang suka bermain hujan atau berjemur” (Cumbu Laler).

Tidak bisa dipungkiri saya sendiri suka bermain hujan di ujung musim kemarau. Bagi saya bermain hujan itu sangat menyenangkan meskipun hal tersebut dianggap konyol oleh beberapa orang yang melihat saya sambil menahan dingin di bawah payung. Saya tidak heran atau marah kepada mereka sebab, saya sendiri juga pernah merasa heran tatkala melihat bule yang suka berjemur di bawah panas terik matahari sedangkan baru membayangkan saja rasanya kulit saya sudah menghitam (karena kulit saya memang sudah hitam sejak lahir, hehe). Sekeras apa-pun orang melarang saya bermain hujan atau sehina apa-pun saya mengejek kebodohan mereka yang suka berjemur di bawah terik matahari, tidak ada sesorang pun yang mampu memaksakan keinginan orang lain. Sekalipun kita bisa memaksakan kehendak dengan menodongkan pistol, yang mampu kita paksakan adalah raganya, sedangkan hatinya belum tentu mengikuti keinginan kita.

Memperjuangkan seseorang yang tidak memiliki keinginan untuk maju atau, memberikan motivasi kepada seseorang yang tidak ingin berubah adalah suatu pekerjaan yang sia-sia. Tidak ada satu pun motivator terhebat di dunia ini yang mampu merubah sikap atau pola pikir seseorang yang tidak ingin merubah sikapnya sendiri. Orang lain atau bahkan Ibu kandung kita boleh saja memaksa kita untuk taat beribadah–memerintahkan kita untuk rajin sholat bagi kita yang beragama Muslim atau, memerintahkan kita untuk rajin pergi ke gereja bagi kita yang beragama Nasrani atau memerintahkan kita untuk taat beribadah ke kuil bagi kita yang beragama Konghucu–namun, yang menentukan diri kita mau taat menjalankan perintah agama adalah diri kita masing-masing. Jika agama adalah payung, maka tidak ada seorang-pun yang mampu memaksakan orang lain untuk berlindung dari hujan atau panas di bawahnya.

Seseorang sedang bermain hujan

Seseorang sedang bermain hujan 

Meskipun saya adalah orang yang meyakini bahwa agama yang dibawa oleh kitab suci adalah Juru Selamat bagi umat manusia, adalah payung bagi manusia, adalah kompas bagi perjalanan manusia di dunia, namun tidak ada yang mampu memaksakan orang lain untuk tidak bermain hujan, tidak ada yang mampu memaksa orang lain untuk tidak berjemur di bawah terik matahari, tidak ada pula yang mampu memaksa orang lain untuk mengikuti kompas agar tidak tersesat menuju jalan yang dianggap baik bagi Sang Juru Selamat. Surga dan Neraka adalah pilihan bagi setiap umat manusia dan tidak ada seorang-pun yang mampu memaksakan hal tersebut kecuali diri mereka sendiri. Sekeras apa-pun kita meyakinkan orang lain bahwa ada kehidupan yang lebih baik di akhirat nanti jika mau mengikuti petunjuk agama, pilihan jatuh pada diri individu masing-masing. Tak seorang-pun yang dapat memaksakan Surga atau Neraka terhadap orang lain, dan hanya Allah yang mampu melakukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s