Politik Tender

Ini adalah trik yang sangat sederhana dan sangat biasa dalam dunia bisnis. Barangkali anak SMK pun tahu tentang trik yang akan saya katakan ini. Namun sebelum anda menilainya sebagai hal yang basi, alangkah baiknya jika anda sudi membacanya hingga selesai agar sesuatu yang basi tersebut masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lain, misalnya nasi basi yang kemudian diolah menjadi puli (jajanan khas orang Jawa).

Dalam sebuah proyek bisnis, ada istilah yang dinamakan dengan “tender”. Tender adalah tawaran untuk mengajukan harga,memborong pekerjaan, atau menyediakan barang dan atau jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada perusahaan lain baik swasta maupun pemerintah. Mengikuti tender adalah salah satu cara untuk mendapatkan kontrak bisnis dalam skala besar atau untuk memperluas usaha. Bagi pemilik proyek, tender diperlukan untuk mendapatkan penawaran kualitas yang paling bagus dengan harga yang paling efisien.
Proses tender adalah proses yang penuh dengan persaingan, mengingat tujuan utama pemilik proyek tender adalah mendapatkan kualitas terbaik dari sekian banyak pembanding. Proyek yang dilelang oleh perusahaan atau lembaga pemerintah biasanya membutuhkan sedikitnya 5 perusahaan pembanding untuk selanjutnya diseleksi yang paling menguntungkan atau yang memberikan penawaran paling bagus. Tanpa trik kusus, peserta tender yang polosan akan sulit memenangkannya. Ini hampir sama dengan judi.
Salah satu trik kusus yang sering dipakai peserta tender untuk memenangkan tender adalah menciptakan persaingan semu. Misalnya: Rumah Sakit pemerintah melelang proyek pengadaan alat-alat kesehatan dan membutuhkan sedikitnya 5 proposal dari peserta tender sebagai pembanding. Jika anda adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan alat-alat kesehatan, maka anda hanya perlu 5 CV (badan hukum usaha) yang berbeda (anda bisa bekerja sama dengan rekan satu tim anda) sebagai pembanding semu. Dengan demikian anda telah memperbesar peluang anda untuk memenangkan tender pengadaan alat-alat kesehatan tersebut, bukan?!

Saya rasa trik di atas adalah trik yang sudah sangat umum dan banyak diketahui oleh kebanyakan pengusaha atau bahkan anak SMK sekalipun. Memang bukan itu sasaran yang ingin saya sampaikan namun, keadaan lain yang penerapannya tidak jauh berbeda dengan penggambaran yang saya sampaikan tentang tender proyek di atas. Yaitu situasi politik yang ada di negara kita tercinta ini. Sistem multi partai sebagai pembanding semu. Saya mengatakan demikian, karena sebanyak apa-pun partai peserta pemilu, pada akhirnya berkoalisi juga.
Mungkin bagi kebanyakan orang menganggap koalisi ini adalah hal yang sangat wajar dalam dunia politik. Bagi saya tidak! Ada sesuatu yang membuat saya merasa situasi politik ini sama seperti trik perusahaan yang ingin memenangkan tender sebuah proyek. Kalau boleh saya menyebut merek sebagai contoh, Meskipun Rachmawati dan Megawati pernah dikatakan saling tidak cocok satu sama lain, toh akhirnya mereka kini (partai keduanya) berkoalisi juga. Duo Soekarnoputri itu kini telah menyatakan bersatunya PDIP dan Nasdem untuk memenangkan tampok kepemimpinan tertinggi di negeri ini. Ya bagaimanapun juga mereka adalah saudara. Lalu ditambah lagi dengan wacana Partai Golkar yang juga ingin bergabung dalam koalisi bentukan PDIP tersebut yang notabene, ehem, bagaimana-pun juga Surya Paloh dan Aburizal Bakri adalah duo sahabat bagai kepompong sewaktu keduanya menjadi murid eyang Soeharto.
Lalu bagaimana dengan Prabowo yang sekarang sudah mulai sepi berkampanye di media elektronik? Bukankah dia juga murid seperguruan Paloh dan Ical? Wiranto, yang masih semangat beriklan di RCTI juga mantan kader Golkar, sepertinya masih ngotot ingin mencalonkan diri menjadi tandingan sahabat-sahabat lamanya itu. Jika dugaan saya benar, Prabowo-Hatta dan Wiranto-HT hanyalah pembanding semu Jokowi-JK yang pada hari ini resmi diumumkan sebagai pasangan calon PDIP. Tanpa pembanding, lucu jadinya kalau pemilihan presiden nanti hanya diikuti oleh 1 (satu) pasangan calon melawan Bumbung Kosong; istilah golput dalam pemilihan Kepala Desa.

Penglihatan saya memang konyol, atau mungkin memang kekhawatiran saya yang terlalu berlebihan. Allahu alam, hanya Allah yang tahu. Tapi, saya terkadang merasa tidak ada orang lain yang bisa melihat apa yang saya lihat. Seperti judul lagu milik Louis Armstrong, “Nobody knows the trouble I’ve seen”.
Semoga saja saya salah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s