Memahami Cinta

“Cintaku sekonyong-konyong koder karo koe, cah ayu sing dodol lemper, paribasan durung demok wani panjer”. Penggalan lagu ciptaan Didi Kempot di atas berarti: Cintaku datang tiba-tiba kepadamu, gadis cantik, seperti peri bahasa yang mengatakan belum menyentuh (kartu) sudah berani memasang taruhan (dalam permainan judi).
Seperti demikian kiranya gambaran tentang cinta buta. Cinta yang asal seruduk tanpa mau memahami kenapa mencintai, kenapa melakukan hal tersebut, kenapa seseorang melakukan hal yang tidak dia tau alasan melakukannya.

Pasti ada alasan tertentu seorang pria menilai seorang wanita cantik atau sebaliknya seorang wanita menilai seorang pria tampan, entah itu dari sudut pandang fisik atau inner beauty. Begitu juga dengan cinta, pasti ada alasan tertentu seseorang mencintai orang lain, mencintai alam, mencintai binatang dan sebagainya. Peribahasa Jawa mengatakan “Witing trisna jalaran saka kulina”, kulina atau keterbiasaan di sini dalam artian pembiasaan diri secara terus-menerus yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar untuk mencintai sesuatu. Inilah penyebab mengapa banyak orang tidak dapat menemukan alasan dirinya mencintai sesuatu. Padahal yang diperlukan hanyalah sedikit merenungkan, mengalihkan perhatian sejenak mengembalikan diri ke masa lampau untuk menggali alasan dia mencintai sesuatu yang tidak dapat dia pahami tersebut. Misalnya, seseorang tidak dapat menemukan alasan dirinya mencintai seseorang yang cerewet, seseorang yang secara fisik bukanlah tipenya mungkin dengan menggali alam bawah sadarnya, dia bisa menemukan alasan tersebut misalnya, karena merasa iba yang kemudian timbul rasa kasih sayang, atau perasaan ingin melindunginya, atau bisa saja di balik kekurangannya tersebut ternyata dia adalah seseorang yang memiliki kepedulian tinggi, perhatian, atau perasaan ingin saling melengkapi dan lain-lain.

Sebagai umat Islam-Jawa, kita masih mempertahankan tradisi-tradisi agama Hindu atau biasa disebut sebagai Islam-Kejawen. Sebagai contoh adalah tumpeng. Tumpeng adalah cara penyajian makanan yang berbentuk kerucut, biasanya terbuat dari nasi kuning disertai dengan lauk-pauk dan sayuran hasil pertanian. Digunakan masyarakat Jawa dalam ritual-ritual keagamaan atau selamatan. Falsafah bentuk kerucut tumpeng sendiri diadopsi dari bentuk geografis Indonesia yang memiliki banyak pegunungan. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para Hyang atau Dewa-dewa, atau para leluhur atau nenek moyang. Masyarakat Jawa yang dipengaruhi Hindu, nasi yang dibentuk kerucut bermaksud meniru bentuk gunung yang dianggapnya suci yaitu gunung Mahameru, tempat yang mereka percaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa-dewi.

Tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan tradisi Islam di pulau Jawa sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri atau selamatan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan terlebih dahulu digelar pengajian Al-Quran. Tumpeng, menurut tradisi Jawa, adalah akronim dalam bahasa jawa: “Yen metu kudu sing mempeng” (Bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Dan tumpeng yang lainnya, yang bentuknya tidak kerucut sebagai pendamping tumpeng dinamakan Buceng. Buceng juga berasal dari akronim “Yen mlebu kudu sing kenceng” (Bila masuk harus dengan sungguh-sungguh). Sedangkan lauk pauk dan jajanan tradisional yang berjumlah 7 macam, dalam bahasa Jawa angka tujuh dinamakan “Pitu”, yang bermakna akronim “Pitulungan” atau pertolongan. Tiga kalimat akronim tersebut jika dirangkai adalah sebuah doa “Ya Tuhan, keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar dan masukkanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku kekuasaan bagiku untuk memberikan pertolongan”. Yang menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW ketika akan berhijrah keluar dari kota Mekah menuju Madinah. Dapat ditafsirkan masyarakat Jawa menggunakan simbol-simbol tersebut sebagai doa berpindah kepercayaan dari Hindu ke Islam. Dan masih banyak lagi contoh-contoh tradisi Jawa yang diadopsi oleh pemeluk agama Islam di Jawa misalnya, tradisi upacara pemakaman dengan membawa kelapa muda, menyebar uang receh di setiap persimpangan jalan, membawakan sapu lidi ke pemakaman.

Tanpa memahami bahwa tradisi tersebut sebenarnya adalah sebuah simbol doa-doa yang dipanjatkan keluarga kepada seseorang yang meninggal dunia. Kelapa muda dan uang receh adalah simbol bahwa orang mati tidak dapat membawa harta kekayaannya ke akhirat kecuali amal selama hidupnya dan anak-anak soleh yang telah dia tinggalkan. Dan dengan simbol-simbol tersebut, sanak saudara hanya bisa memberikan doa-doa kepada almarhum sebagai bekal, dengan simbol buah kelapa muda, sanak saudara berharap doa-doanya bisa menjadi bekal bagi almarhum jika kehausan (haus akan amal perbuatan) di alam kubur. Simbol sapu sebagai doa sanak saudara agar Allah SWT memberikan jalan yang lebar bagi almarhum menuju tempat yang mulia di sisi Allah SWT.

Melaksanakan ritual berdasarkan tradisi seperti itu tanpa mengetahui atau berusaha mencari tahu falsafah yang dikandungnya dan berusaha memahami pesan yang disampaikannya adalah salah satu contoh cinta buta. Adalah (bisa dikatakan sebabai) syrik kecil, mempercayai suatu tradisi sebagai ajaran agama (dalam hal ini agama Islam) tanpa memahaminya. Seperti kenapa dalam membaca kalimah tahlil harus menggeleng-gelengkan kepala, bisa dikatakan syirik kecil jika seseorang menganggap itu adalah sebuah rukun tahlil yang tidak lain tidak bukan sebenarnya karena larut dalam khusuknya berdoa.

Berhutang kata milik Reza A.A Watimena, bahwa “menjadi orang yang beriman adalah meyakini seperangkat ajaran tertentu, sekaligus nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Beriman berarti percaya bahwa seperangkat ajaran tertentu bisa membawa hidup manusia ke arah yang lebih baik. Ini berlaku untuk semua agama, ataupun ideologi yang ada di dunia. Beriman tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga menghayati nilai yang terkandung di dalam ajaran tersebut. Dengan memahami nilai-nilai hidup dari imannya, kita berharap dapat meresapi dan menerapkan secara konsisten nilai-nilai itu di dalam hidup kesehariannya. Jika tidak diterapkan maka iman dan penghayatan nilai hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Dengan kata lain harus ada kesesuaian antara keimanan yang diyakini, nilai-nilai hidup yang diperoleh, dan perilaku keseharian.”

Harapan kita sebagai makhluk yang dikaruniai cinta, agar cita kita tidak menjadi cinta yang sia-sia, cinta yang buta tanpa memahami, iman yang semu dan akhirnya menjadi iman yang sia-sia seperti yang dikatakan Cumbu Laler, “Cinta buta adalah beriman tanpa memahami”.

Arie Ardhana/2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s