Belajar Dari Tubuh #Bag.1; Makna Di Balik “Mengunyah”

Nabi mengajarkan agar mengunyah makanan minimal 33 kali sebelum ditelan. Sebagaimana sabdanya, ’’Saya mengunyah setiap suap makanan 30-50 kali, sehingga menjadi lembek dan melalui kerongkongan tanpa kesulitan. Bahkan, pada makanan yang sulit dicerna dengan baik, saya kunyah sampai 70-75 kali.’’ Jika tidak dikunyah dengan baik, sebagian makanan itu akan terbuang tanpa terserap dan terjadilah pembusukan yang menghasilkan banyak racun di usus. Itulah yang menghabiskan sejumlah besar enzim. Air liur yang otomatis keluar saat mengunyah dapat bercampur baik dengan asam lambung maupun air empedu. Maka proses pencernakan pun bisa lebih lancar.

Nabi tidak mencela makanan. Sebagaimana terdapat dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, ’’Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.’’
Tidak mencela makanan berarti seseorang suka dan mensyukuri makanan itu. Suasana hatinya senang ketika mengonsumsinya.

Lalau bagaimana dengan cara anda menikmati makanan? Langsung ditelan, dikunyah sebentar, atau mungkin sudah mencelanya sebelum tau bagaimana rasa makanan tersebut? Mari kita sejenak merenungkan makna tersirat apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW tersebut. Dalam hal ini saya ingin mengaitkannya dengan segala pelajaran hidup yang mungkin pernah kita alami, atau mungkin yang telah dialami oleh orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengabaikan hal-hal sepele. Ya, hal sepele-lah yang justru sering kita abaikan. Mungkin karena kita menganggap tidak terlalu penting. Padahal apabila kita mau memaknai, banyak hal yang sangat berharga yang dapat kita petik dari hal-hal sepele tersebut. Lalu bagaimana caranya kita mendapatkan pelajaran dari hal-hal apa saja, baik hal besar maupun hal sepele dalam kehidupan ini? Kita hanya perlu MENGUNYAH. Ilmu ibarat makanan, sebelum sikap skeptis kita mendahului indera kita alagkah baiknya jika kita mengunyahnya terlebih dahulu, jangan-jangan makanan yang sebelumnya kita anggap pahit itu justu menjadi obat bagi tubuh kita. Jangan-jangan perkataan kasar seseorang ternyata lebih menampar kesombongan kita, daripada sanjungan yang justru membuat kita semakin sombong.

Gresik, Mei 2015

One thought on “Belajar Dari Tubuh #Bag.1; Makna Di Balik “Mengunyah”

  1. Pingback: Belajar Dari Tubuh #Bag.3; Waktu yang Tepat untuk “Ngaceng” | Arie Ardhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s