Penjajahan Lemah Lembut Kaum Rasis

Berbaringlah sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri, seberapa besar anda menghargai raga yang anda tinggali? Apakah anda yakin dengan jawaban anda?

Kalau anda yakin telah menghargai raga sendiri, mari saya ingatkan kembali tentang kutukan yang telah kita terima selama ribuan tahun menyerupai kutukan Sisifus oleh sang dewa. Alkisah dalam dongeng, dewa mengutuk sisifus mendorong batu selama hidupnya. Ia mendorong batu besar menuju puncak gunung, namun setelah dengan susah-payah sampai di puncak gunung, batu itu menggelinding. Sisifus hanya bisa melihatnya, sambil bengong, lalu turun ke bawah untuk mendorong kembali ke puncak gunung. Begitu seterusnya.

Begitu pula dengan keadaan kita–dalam hal ini kata “kita” berarti juga melibatkan saya sendiri dalam lingkaran tersebut kan. Kususnya kita yang memiliki pigmen gelap. Sejak jaman kejayaan Babillonia hingga saat ini, pigmen kulit hitam selalu diidentikkan sebagai budak. Dianggap kaum terbelakang, tak berakal, marginal dan lain-lain.

Kabar (setengah) gembira baru tampak sejak refolusi perancis yang menghapuskan sistem perbudakan. Namun apakah hal tersebut dapat mengubah pola pikir bahwa kita sebagai manusia terlahir sama? Jawabannya tidak sama sekali sehingga hal ini memaksa Michael Jackson “mengoprek” tubuhnya menjadi kulit putih. Jacky adalah orang yang sangat luar biasa. Meskipun ia sungguh tertekan dengan isu rasis tersebut, namun ia tak pernah menyerah memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam. Sayangnya sebelum perjuangan berhasil, ia terlebih dahulu meninggal dunia. Ya, perjuangannya belum berakir. Sampai saat ini isu rasis soal warna kulit ini setiap hari mencekik kita. Meski tidak secara langsung, kita direndahkan secara warna kulit setiap hari setiap detik dalam kehidupan kita tanpa kita sadari.

Sangking parahnya sehingga kita tidak merasakan adanya diskriminasi. Dan kita sebagai “korban” justru mengamini tekanan tersebut. Sungguh ironis bukan, kita secara tidak sadar membela penjajahan mental terhadap diri kita sendiri. Tongkat estafet diskriminasi ras yang diprakarsai oleh orang kulit putih di negeri barat itu kini diteruskan oleh industri kecantikan. Bukan semua industri kecantikan, memang, namun mayoritas indusrti kecantikan gencar mengangkat isu ras ini sebagai modal utama mereka. Tidak usah sebut merek, kita ambil contoh saja industri sabun seperti Zin Zhui, Pond’s, Nivea dll, misalnya. Hampir setiap hari mereka berkampanye di media masa televisi bahwa cantik itu identik dengan putih merona, cerah berseri, kuning langsat, yah seperti itulah pokoknya. Intinya mereka bilang kulit gelap itu ndak mecing, belilah produk ini biar mecing. Tidak ada yang menyadari hal tersebut, bukan? Sama! Saya juga awalnya menganggap tidak ada sesuatu yang janggal pada iklan-iklan produk kecantikan dan kegantengan yang ada di televisi. Tapi seiring berjalannya waktu kok saya rasakan iklan produk kecantikan itu berawal dari orang yang gak PeDe dengan warna kulitnya yang gelap dan kusam hingga akirnya menemukan produk tertentu berdasarkan rekomendasi dari temannya dan akhirnya berhasil menemukan kepercayaan dirinya kembali seiring kulitnya yang semakin tampak putih merona. Hmmm… Kan secara tidak langsung iklan itu menyuruh kita gak PeDe dengan warna kulit kita sendiri yang memang tidak mewarisi garis keturunan cungkok.

Gambar dicuri dari Google Pic

Gambar dicuri dari Google Pic

Lah, saya juga bingung, soal warna kulit ini kan soal pigmen, mau salto gulung-gulung pun saya sebenarnya sadar kalau kulit sawo matang saya ini gak mungkin bisa berubah jadi putih bersinar. Namun apa daya ketika mayoritas masyarakat telah membenarkan sudut pandang keindahan yang dideskripsikan oleh para kaum kapitalis tersebut. Pengalaman yang sangat membuat saya miris adalah ketika suatu saat sedang nonton film di bioskop. Pada adegan film tersebut ada orang setengah baya curhat kepada temannya bahwa ia sangat kehilangan istri yang sangat dia cintai, “dia adalah orang yang sangat cantik”, katanya sambil menunjukkan foto seorang wanita kulit hitam. Orang-orang setengah isi bioskop tersebut tertawa, mayoritas yang menonton waktu itu mahasiswa lagi. Lah aku heran, apanya yang lucu gitu lo, sedangkan suasana film nya lagi sedih.

Saya sadar, mereka tidak bersalah menertawakan kulit gelap, mereka juga tidak bersalah jika menganggap hitam itu dekil. Ini semua karena betapa hebatnya agitasi yang setiap hari dilancarkan oleh para industri pemutih kulit di berbagai media massa. Bahkan segeram-geramnya saya menulis ini pun, saya tak kuasa menahan diri untuk mengantisipasi datangnya tekanan batin yang mungkin sewaktu-waktu terlontar dari mulut para korban agitasi itu dengan cara rutin memakai produk Nivea Men Whitening Oil Control. Entahlah. 😐

Gresik, Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s