Belajar Dari Tubuh #Bag.3; Waktu yang Tepat untuk “Ngaceng”

PERINGATAN! Sebelum anda melanjutkan membaca artikel ini sebaiknya anda membaca “Belajar Dari Tubuh #Bag.1. Jika anda masih belum cukup dewasa untuk membacanya, lebih baik enyahlah dari laman ini! Ini bukan laman untuk orang cabul.

Artikel ini sebenarnya ingin saya beri tajuk “Belajar dari Kontol”, namun rasanya terlalu kasar meskipun maksud yang ingin saya sampaikan tidaklah sedemikian telanjang.

Kejadian ini sebenarnya sudah sangat lama terjadi, kalau tidak salah tahun 2012 yang lalu. Saya pun telah mempublikasikan di media sosial pada tahun tersebut, yaitu di twitter dan di facebook. Namun belum pernah saya membahasnya sepanjang dan selebar ini (mungkin dilain kesempatan bisa lebih panjang kali lebar lagi dari ini).

Pada suatu senja, Cumbu Laler, tetiba datang menghampiri saya lalu berucap sepenggal kalimat berikut, “Hidup itu seperti Kontol, ada kalanya kita harus keras menantang dan ada kalanya kita harus lemas menahan”. Kemudian beliau pergi begitu saja tanpa memberitahu apa yang beliau ingin sampaikan kepada saya. Ya, beliau sering kali demikian, pergi tanpa sekalipun pernah datang sebelumnya. Bingung, kan? Sama!

Saya sudah hafal, tidak mungkin beliau berkata tanpa makna, maka saya selalu berusaha mengunyahnya meski terasa aneh dirasakan oleh lidah awam saya. Mengkaitkan antara keseronokan dengan pelajaran hidup memang tidaklah mudah. Saya mencoba mengurai benang-benang tersebut.  Keras menantang dan lemas menahan, demikianlah sifat dari kelamin laki-laki yang tergolong unik tersebut. Terkadang memang kita tidak bisa mengendalikan naluri “Si Mr.P” ini meskipun otak kita berusaha melawannya, misalnya saat menahan pipis atau saat ia menerima signal sebagai reseptor sexual. Dan fatalnya hal tersebut bisa menimbulkan rasa yang sangat memalukan dan tidak nyaman bagi “tuannya”, kaum pria. Sebaik-baiknya Kontol itu bisa mengendalikan diri untuk memilih waktu yang tepat untuk ngaceng.

Setali tiga uang dengan perjuangan hidup, ada kalanya kita harus keras menantang penindasan, ada kalanya kita harus mengakui kekalahan dengan perasaan lapang dada. “maju terus pantang mundur”, begitulah semboyan nenek moyang kita dalam mengusir penjajah. Tanpa adanya siasat, musyawarah dengan kelompok-kelompok gerilyawan yang tercecer, saya kira pantas jika Belanda mampu menguasai negeri ini selama 300 tahun.

Satu di antara berbagai strategi dan filosofi berperang Sun Tzu, seorang maestro seni pertempuran dari negeri China, dalam bukunya yang berjudul “Sunzi Bingfa, lit” Master Sun’s Rules Army (The Art of War) mengatakan, “Ada saatnya untuk menggencarkan kekuatan. Semua kemungkinan lain harus lebih dulu diupayakan mati-matian, termasuk berbalik dan berlari”. Dalam bab Strategi, Sun Tzu, menggambarkannya dengan perbandingan:

Jika pasukan kita 10 : 1 dari musuh = Kepung dan serang.

Jika pasukan kita 5 : 1 dari musuh = Pecahkan dan bagilah musuh lalu serang.

Jika pasukan kita 2 : 1  dari musuh = Menyerang 2 arah.

Jika pasukan kita 1 : 1 dari musuh = Dahului perang.

Musuh sedikit lebih besar = Bertahan.

Musuh lebih besar = Berkelit dari serangan.

Musuh jauh lebih besar = MUNDUR.

“Panglima yang cakap dalam strategi tempur memerintahkan maju / mundur pada saat yang tepat.”

Dalam kehidupan kita sehari-hari juga seperti halnya berperang. Kita bisa ambil contoh politikus keblinger yang tidak mengetahui kekuatan dirinya apalagi kekuatan lawan, pasti segala tindak-tanduknya akan serampangan. Bahkan ada yang berfikiran dengan kekuatan uang yang ia miliki ia yakin akan memenangkan pertempuran, padahal belum tentu demikian. Bagi politikus seperti itu pasti akan gila pada waktunya jika modal yang ia keluarkan tidak menghasilkan kemenangan. Bagi yang berhasil dengan kekuatan uang pasti ingin mengembalikan modal yang ia keluarkan sebelumnya.

Bisnis sama halnya juga dengan perang. Oleh karena itu tidak heran jika banyak pengusaha yang berpedoman pada filosofi Seni Berperang Sun Tzu. Tanpa mempelajari seluk beluk pasar lantas dengan gaya sok gagah berani mengeluarkan diskon besar-besaran yang jelas dapat merugikan perusahaan adalah tindakan yang sangat bodoh.

Ya, hampir setiap perjuangan hidup yang setiap hari kita lalui adalah peperangan. Perang melawan nasib. Bahkan dalam urusan cinta sekali-pun hampir tidak jauh berbeda dengan perang. Di saat kita memperjuangkan seseorang, ada kalanya kita harus mengukur kekuatan diri juga kekuatan lawan (dalam hal ini, lawan bisa diartikan sebagai saingan yang juga sedang mengincar gebetan, atau lawan bisa diartikan sebagai gebetan itu sendiri).

Kesimpulannya, jangan pernah mengambil risiko untuk “maju terus pantang mundur”, ini adalah strategi yang paling konyol yang pernah saya dengar. Jika dirasa menang, hancurkan. Tapi jika dirasa kalah, sebaiknya kita tau diri. Mundur tak selalu berarti kalah. Bisa jadi mundur adalah cara kita menunda kemenangan.

Gresik, 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s