Manusia di Antara Manusia

“Dalam kehidupan sosial, kita dianggap (diterima) sebagai manusia jika kita berperilaku sama atau hampir sama dengan perilaku manusia di sekitar kita”

Malam ini, di warung kopi, saya mendapat sentilan dari seorang teman. Sentilan yang hampir sama saya terima beberapa tahun yang lalu. Tentang tujuan hidup. Sedikit gawat dan tinggi memang pembahasannya. Beberapa tahun yang lalu saya mendapat sentilan dari orang tua saya karena bagi mereka dianggap tidak memiliki tujuan hidup dengan tidak berniat menyelesaikan studi di sebuah perguruan tinggi. Oke, alhasil dengan melalui perenungan yang cukup dalam untuk mengakui kekalahan, saya menyelesaikan studi saya dengan tujuan sampai pada tujuan hidup (yang diinginkan kedua orang tua saya waktu itu). Berbeda dengan nasihat super kedua orang tua saya, malam ini yang saya terima hanyalah sebuah cletukan. Namun tetap, gurauan tersebut berujung sebuah rentetan nasihat dan seketika merubah suasana gurau menjadi keheningan yang khusuk. Nasihat teman saya tersebut kira-kira begini, “Lek tak delok awakmu iki sek gak jelas, sek galau uripmu. Sembarang pengen mbok lakoni. Sek nggoleki. Wes tau ngalami aku ngunu kui. Wes wayahe koe noto urip” (Kalau saya lihat-lihat, kamu ini masih tidak jelas, hidupmu masih galau. Segalanya masih ingin kamu lakukan. Kamu masih mencari. Aku sudah pernah mengalami hal seperti itu. Sudah waktunya kamu menata hidup).

Mak jleb. Pandangan saya tentang esensi “hidup” seketika berubah total. Dalam hati saya mengatakan, Wah, masih belum bisa dikatakan sebagai manusia nih, mungkin baru setengah manusia. Sepanjang jalan pulang pikiran saya melayang mencoba bercermin terhadap kehidupan yang dijalani oleh orang lain. Sosok seperti apa yang harus saya copy paste agar saya bisa benar-benar menjadi manusia sejati.

Waktu kecil saya sering mendapat nasihat dari orang tua saya begini, “Sekolaho sing tenan ben mbesuk dadi uwong” (Sekolahlah dengan sungguh-sungguh agar kelak menjadi manusia). Seperti merangkai puzzle, tujuan hidup ini adalah menjadi manusia karena kita terlahir belum menjadi manusia. Pertanyaan yang kemudian muncul dari kepala saya adalah “i”* seperti apa yang membuat kita diterima sebagai manusia?

Manusia adalah makhluk peniru. Tidak ada satu pun di dunia ini yang dilakukan manusia murni dari idenya sendiri. Thomas Alfa Edison menciptakan bohlam setelah mendapat ilham dari kilatan petir yang menyambar ketika hujan. Pesawat terbang diciptakan berdasarkan ide Alloh SWT dalam menciptakan burung. Aksen anda ketika berbicara adalah contoh yang paling mudah kita bayangkan bahwa kita adalah makhluk peniru. Meskipun anda berbicara menggunakan bahasa indonesia, saya masih bisa menebak anda telah lama pernah tinggal di Madura atau Ciamis.

Subhanalloh. Sungguh Maha Suci Alloh yang telah menciptakan semesta dengan penuh harmony. Sesuatu yang sering kita lupakan. Meskipun kita menyadirnay namun kita masih sering menghianati bahwa selain sebagai individu kita juga termasuk dalam ekosistem alam. Bahakan dalam cangkupan “individu” manusia sebagai kesatuan (Re: sebagai spesies), kita sering melupakan bahwa kita juga termasuk dalam ekosistem berbagai spesies yang tinggal dalam keharmonisan semesta ini. Kambing, onta, anjing yang mewakili hewan. Cemara, dahlia, jati, arc, bunga bangkai yang mewakili tumbuh-tumbuhan. Belum lagi spesies yang tak kasat mata telanjang seperti bakteri, jin, malaikat. Hmmm. Sungguh kita tak hidup sendiri sebagai manusia. Dan saya sangat yakin sekali, di mana pun kita tinggal, bahkan di Fiji atau di Antartika sekalipun, kita tidak pernah tinggal sendiri. Dan siapa pun yang tinggal dalam habitat, sedikit banyak saling mempengaruhi perilaku satu sama lain.

Perilaku setiap makhluk hidup untuk beradaptasi dengan lingkungannya tentu saja berbeda-beda, sesuai situasi dan kondisi habitat yang ditinggalinya. Apa yang dilakukan orang Pontianak untuk mempertahankan diri dari panasnya katulistiwa tentu berbeda dengan cara orang Eskimo menahan dingin di Kutub Utara. Boleh jadi pola pikir orang Jakarta menganggap manusia dengan setelan jas disertai dasi dan tinggal di apartemen sudah mencapai kesempurnaan hidup sebagai manusia. Boleh jadi orang-orang Suku Dayak Liar berkata sebaliknya tentang pandangannya sebagai manusia sejati. Jika anda terlahir sebagai anak orang miskin, tentu anda tidak akan terima jika dikatakan anda bukan manusia lantaran anda tidak mampu membayar uang sekolah dan memilih hidup di jalanan, bukan?! Jika anda memilih jalan hidup sebagai punker yang hidup di jalanan yang bagi orang lain terlihat galau dan tidak memiliki tujuan hidup, tentu anda tidak terima dikatan bukan manusia hanya karena orang lain tak mampu memahami manusia macam apa yang hendak anda pilih, bukan?! Semua tergantung jawaban atas pertanyaan apa itu manusia bagi diri kita sendiri.

Sederhananya kita tidak akan pernah bisa menjadi “manusia” sebelum kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Kita harus segera hentikan perdebatan “sebagai manusia kita harus begini gegitu bla bla bla…”. Jika kita melakukan hal tersebut, masih ada jutaan pendapat tentang identitas (i) sebagai manusia. Sampai kapan-pun kita tidak akan pernah berhenti mencari, sedangkan yang kita cari sebenarnya telah ada dalam diri kita sejak lahir. Ya, kita adalah manusia, spesies yang tinggal di Bumi bersama jutaan spesies lainnya dengan perilaku yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan pola pikir kita tentang esensi manusia sebagai manusia, begitu juga sebaliknya.

Gresik, 2015

2 thoughts on “Manusia di Antara Manusia

  1. Kapan cak nulis tentang humanisme, memanusiakan manusia dg manusiawi…
    Koyok e wz wayahe, mosok menulis tentang pencarian jati diri terus..kan jare jati diri iku wes ada dlm diri sejak lahir…hoho
    Terlepas dr itu, aku tetep salut dg penulis..disela2 kesibukan sebagai manusia yg “macak” manusia utuh seperti yg diinginkan manusia yg lain tp tetap meluangkan waktu tuk menuangkan isi tengkoraknya…
    Bravo..bravo..

    • Justru karena saya sadar bahwa saya adalah manusia. Bukankah sebelum kita bisa memanusiakan orang lain, kita harus bisa memanusiakan diri sendiri terlebih dahulu. Karena, diri adalah manusia pertama yang akan selalu kita temui setiap hari.
      Pertanyaanya, apakah sampeyan termasuk manusia, mbah? Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s