Fotografi Analog

Pentax SVSaya bukan fotografer profesional, saya hanya ingin berbagi pengalaman fotografi saya. Bagi saya, menulis adalah salah satu cara yang baik untuk tetap mengingat apa yang telah dipelajari.

Saya mengenal fotografi sejak masih kuliah. Tapi saya belum mengerti apa-apa tentangfotografi, hanya sebuah ketertarikan. Ilmu yang saya dapat pun sangat minim, maklum masih belum memiliki kamera sendiri. Saya hanya suka memotret menggunakan kamera ponsel.

Setelah bekerja dan memiliki uang sendiri, kamera pertama yang saya miliki adalah Nikon Coolpix P900. Kamera prosumer dengan zoom yang mampu memotret bulan, ini yang sangat membuat saya tertarik. Dari sini saya sering melihat Youtube tentang berbagai review kamera. Mulai mengerti apa itu exposure, ISO, diafragma, shooter speed, dll. Setiap hari saya youtubing tentang kamera. Sampai akirnya kamera P900 saya saya jual dan membeli DSLR pertama saya, Sony alpha a330. DSLR yang sangat-sangat entry level. Hunting di jalanan, upload foto di instagram, youtubing tentang fotografi menjadi keseharian saya.

Ketertarikan saya terhadap Fotografi Analog pun karena saya follow akun dr. Tompi ( @dr_tompi ) yang notabone adalah fotografer analog profesional. Saya iseng tanya di kolom komentar postingannya, bagaimana caranya mendigitalkan fotografi analog? Ternyata bisa dengan cara di scan, dan dr. Tompi mengenalkan lab yang menerima jasa develop (cuci film) dan scan di Soup n’ Film. Saya pun semakin tertarik dengan fotografi analog. Sampai pada suatu waktu, teman saya menceritakan bahwa dia memiliki kamera analog, Canon FTb, dan meminjamkannya kepada saya. Kameranya normal, hanya saja ada sedikit masalah pada diafragma lensa.

Dari situ saya semakin antusias dengan kamera analog, Saya keliling ke studio-studio foto di kota Tuban (saat itu saya tinggal di kota Tuban) untuk mencari film dan servis kamera analog. Dan tidak ada satupun yang masih menyediakan roll film maupun servis kamera analog. Saya tidak menyerah, saya mencari-cari adakah komunitas fotografi analog di Facebook. Dari Komunitas Kamera Analog Jogja, Malang, Surabaya Analog Fotografi, Forum Jual-Beli Kamera Analog/Film saya ikuti.

Alhamdulillah, mereka semua yang ada dalam komunitas dan forum sangat ramah terhadap orang baru seperti saya. Setiap pertanyaan saya dijawab dengan sabar. Saya memang suka bertanya dan tidak tau malu. Daripada memperbaiki kamera orang, akirnya saya membeli kamera analog sendiri dari Forum Jual Beli Kamera Analog / Film. Kamera analog pertama saya adalah SLR Pentax SV dengan lensa fix Super Takumar 50mm. Saya memilihnya karena murah dan tidak ada PR perbaikan. Kemudian saya juga pesan film. Film pertama saya adalah Ilford HP5 400. Dari cara loading film, kokang, take foto saya pelajari dari youtube dan bertanya di komunitas FB.

Karena Pentax SV adalah kamera SLR yang benar-benar manual dan tidak dilengkapi dengan exposure meter / light meter, saya kesulitan untuk mengambil foto. Beruntung saya masih memiliki kamera digital. Semua metering saya samakan dengan setting yang ada di kamera digital dengan setting ISO saya samakan sesuai film, yaitu di ISO 400. Roll pertama saya kirim ke Hipercat Lab untuk diproses. Deg-degan menunggu hasilnya. Gila, deg-degan ini yang justru bagi saya menjadi candu. Kamera analog ini mengajarkan saya untuk selalu hati-hati sebelum menekan tombol shooter. Matering harus bener-bener pas, fokus juga harus bener-bener pas. Satu minggu saya menunggu hasilnya, dan betapa gembiranya setelah mengetahui hasilnya tidak banyak yang under atau over exposure keterlaluan. Di akhir cerita saya akan menunjukkan beberapa hasil roll pertama saya dengan Ilford HP5 di Pentax SV.

Bagi saya, kamera analog memiliki ciri khas sendiri, salah satunya adalah grain yang indah daripada noise yang sering kita dapat pada kamera digital. Dan saya tidak perlu kawatir dengan jumlah SC seperti pada kamera digital, karena ini memakai film, dan film itu satu SC untuk satu frame. Bahasa kasarnya, ini kamera dengan sensor sekali pakai. Dan sensornya pun bisa dikatakan full frame. Seperti kita tau, berapa harga kamera full frame digital saat ini. Yang masih APS-C aja masih mahal (bagi saya).

Sejak saat itu saya semakin mencintai film fotografi / kamera analog. Sejak roll pertama saya, postingan instagram saya adalah hasil dari fotografi kamera analog. Boleh lah di follow IG saya di @dhanaminardjo. Sampai sini dulu curhat saya mengenai fotografi analog versi saya. Kesempatan berikutnya saya akan mencoba share tentang tips memilih kamera analog, tentu saja menurut versi saya.

Berikut beberapa hasil fotografi analog saya dengan kamera Pentax SV dan film Ilford HP 5 400:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s