Sajak Pelangi

Sajak Pelangi Yang mereka sebut cinta, Bagiku itu pelangi. Yang mereka sebut kekasih, Bagiku rintik hujan. Kau tau mengapa? Sebab meski bagimu tak cukup pantas, Aku selalu berusaha menjadi mentari. Semampuku menyinari Bulir-bulir rintik hujan Berbuah hati Pelangi. Gresik, 0209015/00.44

Gumaman Batu

Aku adalah nafas yang Kau tiup pada rekah batu berpahat lelekuk patung sedemikian seleraMu Tak pernah merasa cukup, aku bertanya pada belah awan hitam arang atau putih bawang kaul apa yang kusepakati pada tinta di atas putih silam, sebelum sari mani Kau utus menjemputku Aku menyusup pada rekah batu tidur seperti batu bercinta dengan batu…

Es Krim

Jilatanku lebih tepat dari lidah nyala api tujuh matahari, dan kelembutanku melebihi sutera atau bulu kuduk. Aku tak memaksamu menyaksikan gelinjang dan desahnya penuh birahi. Palingkan wajahmu! Betapa kau terbakar cemburu hanya dengan membayangkan aku melumat leleh lendir dan keringat dari tubuhnya. Mungkin sedikit meninggalkan air liur pada lengkung bentuk tubuhnya. Kau tak kan mampu…

Semurah Itukah?

1/ semurah itukah? memaku bingkai vinyl pada batang pohon palm anjing kudisan pun bisa hingga tak kasat busuk bekas luka 2/ sementara aku, jeri menyabitkan takdir pada hitungan benik-benik bertali-tali benang yang mungkin berujung nadir Arie Ardhana Menjelang tengah malam, Desember 2013 Kembali ke “PUISI”

Layang Rindu Untuk Ibu

Ibu… satu langkah terjangkah satu titik terjamah satu titik tertinggal tapak serupa sampah engkau tau, Ibu… seperti itu kiranya Penguasa Semesta bertitah merajang semacam alur aliran air sekekafir tak mampu berbuat mungkir jangkah manusia jangkah kuda semua jangkah hingga jangkah kura-kura tersandar amanat yang sama “dan demi masa” seperti amanat Ibu kepadaku ketika jiwa telah…

Aku Arang

aku arang, tak lagi bara tak perlu kau patahkan, aku telah padam Ocehan Twitter, 21 Januari 2013 Kembali ke “PUISI”

Zig Zag Zig

zig________ ____zag____ ________zig ____zag____ hi_________ ____lang___ ________ja_ ____lan____ hi_________ ____tam____ ________pu_ ____tih____ zig________ ____zag____ ________zig Arie Ardhana, Pada Sore hari dan mulai kehilangan arah, 2013 Kembali ke “PUISI”

Melawan Mati

menahan perih menghapus luka dalam tanah berlumpur melangkah tak pernah berhenti membungkus matahari ludahi warna pelangi air mata pelacur melawan mati di tepi kubur derasnya arus sungai tak mampu hanyutkan luka merangkai nada menghibur diri melawan sepi sembunyi di balik senyum menangis membungkam diri tenggelamkah dirimu ditikam tirani kemunafikan Akhir 2012 Kembali ke “PUISI”

Rekayasa Dunia

Dalam rekayasa dunia Tak tau yang sesungguhnya Menjalani gelap menuju sang cahaya Terbesit sebuah pertanyaan Yang terlintas di kepala Inikah arti hidup Atau hanya sebuah pilihan? Yang harus ku tempuh Tak harus kau tempuh Dan ku raih cahayamu Untuk penuhi ruang kalbu Meski dalam ku terluka Lewati hamparan duri Arie Ardhana Maret, 2013 Kembali ke…

Murka Neraka

Bakarku bakar kubakar bakar Gempar kalian mendengar kabar Bakarku bakar kubakar bakar Gemetar kalian menanti Azab Banar Ha..Ha..Ha.. Ya benar, benar-benar kalian takut benar Benar-benar kalian takut Azab Banar Lebih takut dari pada kebesaran Tuhan Sang Pencipta Kehidupan Lah… Lah dalah itulah Itulah yang membuat kalian terlihat licik Berdoa hanya demi kapling surga Kau puja…